Minggu, 16 November 2008

Tugas Tugas Tugas

Pemulung


Jalan hidup yang miris
Tanpa pilihan

Tiap subuh,
Mereka selalu terbangun dengan perut kosong,
Minta diisi,
Kelaparan
Namun,
Dengan apa mereka mengganjal perut terlilit itu?
Hanya dengan segelas air tawar,
ataupun secangkir teh manis dan kopi,
dengan sejumput gula,
yang tak hangat
Dingin

Pagi-pagi buta,
Dengan tegar mereka menyusuri jalan,
meski perut meraung-raung
Mengais sisa-sisa rejeki di tumpukan sampah

Siang hari,
Terik matahari menggosongkan tubuh mereka
Mengeringkan kerongkongan
Perut menjerit memilukan
Mereka hanya bisa pasrah dipanggang hidup-hidup
Tetapi mereka tetap melangkahkan kaki
Mengorek-ngorek sampah disana-sini

Akhirnya,
Matahari pun turun ke peraduannya
Gelap dan dingin diluar sana
Mereka menempuh jalan yang panjang,
untuk sampai di rumah kembali
Menggigil kedinginan
Menggigit jari kelaparan

Tak bisa tergambarkan lagi betapa perihnya hidup
Hanya bisa meratapi nasib dan takdir yang menanti
Tak kuasa memprotes
Tak berdaya tuk bersuara
Selain berdiam dan menerima

Tidak ada komentar: