Minggu, 16 November 2008

Tugas Tugas Tugas

Pemulung


Jalan hidup yang miris
Tanpa pilihan

Tiap subuh,
Mereka selalu terbangun dengan perut kosong,
Minta diisi,
Kelaparan
Namun,
Dengan apa mereka mengganjal perut terlilit itu?
Hanya dengan segelas air tawar,
ataupun secangkir teh manis dan kopi,
dengan sejumput gula,
yang tak hangat
Dingin

Pagi-pagi buta,
Dengan tegar mereka menyusuri jalan,
meski perut meraung-raung
Mengais sisa-sisa rejeki di tumpukan sampah

Siang hari,
Terik matahari menggosongkan tubuh mereka
Mengeringkan kerongkongan
Perut menjerit memilukan
Mereka hanya bisa pasrah dipanggang hidup-hidup
Tetapi mereka tetap melangkahkan kaki
Mengorek-ngorek sampah disana-sini

Akhirnya,
Matahari pun turun ke peraduannya
Gelap dan dingin diluar sana
Mereka menempuh jalan yang panjang,
untuk sampai di rumah kembali
Menggigil kedinginan
Menggigit jari kelaparan

Tak bisa tergambarkan lagi betapa perihnya hidup
Hanya bisa meratapi nasib dan takdir yang menanti
Tak kuasa memprotes
Tak berdaya tuk bersuara
Selain berdiam dan menerima

Sabtu, 15 November 2008

Tugas B.Ind

Bumiku



Bumiku tercinta,
Dirimu semakin lama
Semakin tua
Tak ada lagi yang memperhatikanmu

Dulu,
Hutan hijau tegak kokoh
Laut biru terbentang luas
dan
Langit cerah berawan

Tapi sekarang,
Hutan hijau habis ditebang
Laut biru menghitam tempat limbah dibuang
dan
Langit kelabu penuh polusi asap

Bumiku tercinta,
Keegoisan kami membuatmu
tereksploitasi
Keserakahan kami membuatmu
menderita
serta
Ketidakpedulian kami membuatmu
tersiksa

Bumiku tercinta,
Maafkanlah mereka,
Maafkanlah kami,
Maafkanlah aku,
Yang tidak bertanggung-jawab untuk turut
melestarikanmu
Yang tidak peduli untuk turut
menjagamu
Yang tidak kasihan untuk turut
melindungimu
dan
Yang tidak mau ambil pusing untuk turut
mencintaimu

Bumiku tercinta,
Jangan dulu engkau terlelap,
Hari kita masih panjang
Bumiku tercinta,
Jangan dulu engkau menyerah,
Jalan kita masih berliku

Kamis, 13 November 2008

Tugas B.Indonesia

RASA YANG SALAH



Teman,
rasa itu hadir
Jurang perpisahan tercipta diantara kita
Terasa dirimu menjauhi hati
Lenyap dari pandangan kian lama

Teman,
salahkah aku?
Tanpa daya aku cegah
Tanpa daya aku tanggung sendiri
Tanpa daya aku tangisi kepergianmu
Kehilangan dirimu,
tumbal segala rasa ini

Teman,
tak sanggup kuterima kenyataan
Menghadang di depan
Terlalu menyiksa
Kau pergi menjauh,
tanpa menoleh
Kau palingkan wajah,
seakan tak pernah kenal

Teman,
kau anggap apa diriku?
Tak perlu kau jawab
Tak lebih dari sekedar teman,
tentu

Salahku terlalu berharap
Salahku terlalu bermimpi
Salahku terlalu mencintamu

1000 tahun lagi pun akan sama saja sianya,
tak kan bisa ku ulang semua
1000 tahun lagi pun akan sama saja getirnya,
tak kan bisa ku dekap dirimu

Sekarang,
izinkan aku mengatakannya
Mengungkapkan rasa ini
Rasa yang telah lama ku pendam
Walau semua sia-sia
Walau tak sudi kau dengar
Walau tak kan mengusikmu
Kubisikkan dengan lirih,
dengan sejuta harapan,
dengan seribu kepedihan,
aku cinta padamu

Selasa, 11 November 2008

Tugas Bahasa Indonesia

100 Tahun Silam dan Sekarang

Darah
Pekik
Jerit
Tangis
Gema
dan Sorak

Semua melebur menjadi satu
Menyulut api perjuangan
yang tak terpadamkan
Oleh laras yang tertodong
Maupun injakan remeh serdadu

Gerilya tak berarti pengecut
Garis belakang tak berarti pengkhianat

Tak gentar
Tak takut
Tak kenal lelah
Tanpa pamrih
Mereka berjuang

Rela berkorban
Rela dibabak-belurkan
Rela tersungkurkan mati

Beranikah generasi kita sekarang?

Merekalah guru bangsa
Teladan bangsa
dan Pahlawan kita

Kitalah penerus bangsa
Penerus penjaga warisan
Warisan kemerdekaan nenek moyang

Sekarang kita bangkit
Kita bangun
Sadar dari kebobrokan moral
dan
Keluar dari jurang kehancuran

Mari berjuang bersama